Papa Sakit
24 Nov 2010 Leave a Comment
in Curhat, Kehidupan, My Family, Papa
Sabtu, 20 November pukul 06.47 Wib ringtone calling di hpku berbunyi, dari mommy, kebetulan aku ga pulang ke rumah weekend ini, biasanya aku pulang ke rumah tiap Jumat sore begitu pulang dari kantor. Mama bilang papa masuk RS karena sesak nafas. Aku pun langsung cabut ke RS Tentara Siantar. Begitu nyampe di RS aku lihat papa lemas, dan tiba-tiba di sore hari sesaknya benar-benar parah, keringat bercucuran, badannya terasa dingin, katanya sesak banget. Akhirnya di pasang oksigen. Penyakitnya belum diketahui karena dokter specialisnya gada, berhubung dokter libur dihari Sabtu-Minggu (hal ini membuatku kaget), karena kita tidak tahu kapan penyakit itu muncul, tidak ada istilah libur harusnya (correct me if i’m wrong). Selain itu para perawatnya juga sangat lamban dalam bekerja, sampai akhirnya aku emosi menghadapi mereka, aku suruh supaya mereka telepon dokternya supaya datang atau paling tidak memberi petunjuk apa yang harus dilakukan para perawat itu. Infusnya juga belum dipasang lagi dengan alasan perawat yang bisa memasang infusnya hanya 1 orang dan sedang tidur berhubung tadi malam ada yang meninggal, jadi perawat itu tidur dulu karena mengantuk dan cape (bukankah tidak ada alasan seperti itu, again correct me if i’m wrong). Aku bilang jadi hanya dengan alasan kurang tidur kalian mengorbankan pasien? Setelah itu barulah perawatnya dibangunin dan infusnya pun dipasang dan sorenya dokter pun datang memeriksa dan dokter bilang papa kena penyakit penyempitan pembuluh darah di jantung, kalau nanti malam masih sesak dan tidak kuat lagi akan dimasukkan ke ICU. Malamnya papa sesak lagi akhirnya masuk ICU, sebelum masuk ICU, hatiku masih bebal untuk membencinya, sampai akhirnya aku melihat tubuhnya terbujur kaku di ruang ICU, hatiku sedih, aku berharap jika Tuhan masih memberi kesempatan hidup buat papa, dia bisa berubah menjadi orang yang lebih baik, menjadi papa yang bisa melindungi dan mengasihi kami. Amin. Akhirnya papa dirujuk juga ke RS Putri Hijau Medan. Keadaannya masih lemas dan diagnosa dokter specialis jantung masih sama dengan dokter yang dari Siantar. Aku hanya bingung dengan penanganan dari RS yang biasanya berbau “gratis” cenderung kurang cepat. Padahal sebenarnya kan ga gratis, karena dari gaji tiap bulan itu sudah dipotong dan tidak setiap bulan orang itu sakit. Tetap aja bayarkan karena gaji tiap bulan di potong??? (Again n again corret me if i’m wrong), klu begini mah mending ga usah ada potongan gaji untuk asuransi kesehatan, mending masing-masing orang pake asuransi kesehatan sendiri, such as prudential, dll.

Opinion